MERAJUT KEBANGKITAN ISLAM BAGI PERADABAN DAN PERDAMAIAN DUNIA

 

MERAJUT KEBANGKITAN ISLAM BAGI PERADABAN DAN PERDAMAIAN DUNIA

 

Dia yang benar keyakinannya kan sungguh-sungguh. Dia yang meyakini panjangnya jalan tuk ditempuh kan bersiap bekal. Dia yang sedikit pengertiannya akan terhambat. Dia yang tak mengerti apa yang ditujunya kan tercerabut.

“ Ibnul Jauzi”

 

Kebangkitan Islam dalam lintas sejarah telah memainkan perannya beberapa abad yang lalu. Terbukti dengan berbagai kejayaan dan kegemilangan yang sukses ditoreh oleh kaum muslimin dalam membangun peradaban agung dimuka bumi ini. Masa-masa keemasan tersebut telah menjadi magnet bagi peradaban dunia saat itu. Potret peradaban tersebut masih jelas tergambar dari beragam peninggalan sejarah klasik, yang seolah-olah terus berbicara dan mengakari spirit juang kaum muslimin hingga kini. Menyempurnakan kisah-kisah generasi Rabbani yang tak bisa dipungkiri eksistensinya. Islam, sampai kapan pun ‘kan tetap menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin. Tak pernah terbatas ruang dan waktu. Bukti-bukti empiris telah menunjukkan, bahwa Islam merupakan solusi bagi perwujudan peradaban dan perdamaian dunia.

Kebangkitan merupakan proses survival terhadap berbagai tantangan yang dihadapi, baik secara spiritual, intelektual maupun skill. Carut marutnya konflik multi dimensi saat ini didunia, harus menjadi  basic serta peluang bagi kaum muslim untuk bersatu padu, mensinergikan seluruh stakeholders, serta menghidupkan kembali niat suci sebagai khalifah, demi mengokohkan Islam sebagai pembangun peradaban dan perdamaian dunia.

Tak dapat dipungkiri bahwa, jatuhnya kekhalifahan Islam terakhir karena faktor internal dan eksternal kaum muslim itu sendiri. Hal itu sukses memberi celah terhadap imperialisme dan kolonialisme oleh kaum penjajah. Sampai-sampai opini dunia mengidentikkan Islam dengan pedang (perang) serta kemunduran. Tetapi kita tidak boleh lupa, karena penjajahan tersebut telah berhasil membangun pondasi kuat terhadap keimanan, gagasan/ide, gerakan (harakah) serta kekuatan umat Muslim demi menyongsong fase kebangkitan Islam yang selalu dirindukannya.

Menyongsong bangkitnya Islam dimasa mendatang dipengaruhi oleh tiga domain penting. Pertama, menjamurnya kaum orientalis terhadap kajian Timur (dunia Islam). Hal ini telah mendorong lingkaran spektrum kaum intelektual muslim untuk merevivalisasikan Oksidentalisme yang dirasa semakin langka dan melahirnya professional-religious guna mengeimbangkan peradaban yang akan dibangun nantinya demi perdamaian dunia menuju abad 21. Selanjutnya, kemajuan sains dan teknologi bagi kehidupan manusia. Kompetisi industri yang berbasis virtual serta digitalisasi terus berkembang dan dibangun secara progresif. Kultur Islamisasi ilmu, ilmuisasi Islam serta integrasi ilmu, yang diintrodusir diantaranya oleh Ismaīl Rājī Al-Farūqi dan  Ziau’ al-Dīn Sadr, harus terus digalakkan demi mempersiapkan umat technocrat-religious untuk kebangkitan Islam di abad kelima belas Hijriah. Terakhir, isu-isu yang bersinggungan dengan etnis, agama/keyakinan, serta domain sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Gejolak-gejolak didalamnya telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi umat manusia saat ini. Tak pelak, Islam kerap kali menjadi sasaran bagi berbagai fenomena tersebut, bahkan “kelinci percobaan” Barat.

Merujuk kepada minimnya kaum oksidentalis serta intelektual, menyadarkan cendikiawan muslim menghidupkan kembali ghirah kaum muda Islam untuk berkonstribusi penuh terhadap kebangkitan ini. Islam membutuhkan masyarakat yang educated, para sarjana yang tidak terkontaminasi dengan budaya sekulerisme, para pemimpin yang mampu membawa arah baru bagi dunia Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Resonansi ide atau gagasan pemikiran Islam telah semakin marak dalam tataran kehidupan sosial. Terbukti dengan berjamurnya kajian-kajian yang membahas masalah keislaman, baik didalam negeri maupun dunia internasional. Terbentuknya lembaga-lembaga pendidikan yang Islami, munculnya  pop culture (budaya popular) oleh kaum Islam kekinian, seperti Majlis Ta’lim oleh kaum emak-emak maupun sosialita, trend fashion syar’i, serta berbagai breakthrough (terobosan) yang dihidupkan oleh para pemuda Islam yang concern untuk mengembalikan ruh keislaman dalam masyarakat muslim, merupakan salah satu keseriusan daripada persiapan misi kebangkitan Islam itu sendiri. Kesadaran kolektif itu harus terus dibina dan digiring demi terbentuknya masyarakat muslim yang madani.

Selanjutnya, peran muslim melalui benang sains dan teknologi dalam merajut bangkitnya Islam. Islam harus mengambil perannya dalam menjaga stabilitas dunia, agar implimentasi peradaban dan kedamaian dimuka bumi ini terlaksana dengan baik. Islam membutuhkan generasi yang berilmu pengetahuan, para pakar atau ahli yang brilian, serta kelembagaan yang kuat. Peran para tokoh agama serta ilmuan-ilmuan yang religius mesti diperhitungkan eksistensinya. Karena mereka akan menjadi pembentuk generasi yang tidak hanya kaya akan khazanah keilmuan saja tetapi juga pendidik moralitas generasi bangsa. Dikotomi antara sains dan agama harus terus dihapus dalam nalar masyarakat muslim.

 Kemajuan sains dan teknologi telah melahirkan berbagai cabang ilmu yang link and match dengan dunia industri. Generasi muslim sebagai catalyst agent harus terus dipersiapkan guna menyongsong Revolusi Industri 4.0. Setiap kita harus kreatif, inovatif dan berkompetisi dengan sehat. Berpijak dari fenomena tersebut, kaum muslimin diharapkan mampu beradaptasi serta berkreatifitas tanpa harus meninggalkan sisi humanis serta kehambaannya kepada Allah SWT. Lembaga pendidikan Islam dan non pendidikan haruslah direorientasi peran dan fungsinya, agar mampu bersaing dengan perubahan zaman, serta menjadi hyper connector bagi para intelektual muslim. Terulangnya sejarah abad kesebelas di Andalusia yang penuh kegemilangan dengan ilmu pengetahuannya, akan “kembali” diseluruh penjuru dunia muslim dimasa depan, dengan terus melahirkan generasi yang memiliki kompetensi personal religious, professional religious serta social religious melalui misi kebangkitan ini.

Isu sensitif yang selalu dihembuskan terkait terorisme, intoleransi, serta kebodohan kaum muslimin telah membuat umat Islam termarjinalkan dan tak percaya diri terhadap potensi yang dimilikinya. Padahal, Al-Qur’an telah menyinggung bagaimana agama yang mulia ini menjunjung perdamaian bagi penganut agama lain, hal ini jelas didalam Q.S At-Taubah (9) ayat 6 yaitu, “ Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah, supaya dia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”. Isu-isu tersebut juga berhasil memecah belah umat Islam itu sendiri,  padahal semestinya menjadi barometer bagi kaum muslimin guna menakar sejauh mana kekuatannya dalam menghadapi setiap tantangan yang muncul.

Perdamaian merupakan suatu atmosfir yang bebas dari perang bahkan kerusuhan. Kondisi yang diliputi oleh keamanan, tenteram, tenang, rukun, serta tanpa bermusuhan ataupun perselisihan. Umat Islam harus mampu merespon setiap fakta aktual dengan bijaksana. Kondisi multikultural dunia harus dipatuhi oleh kaum muslim sebagai Kebesaran Allah SWT. Langkah strategis yang dijalankan untuk kebangkitan Islam mestilah di ukur dengan sangat efektif dan efisien. Ini dimaksud agar,  framing kebangkitan Islam tidak dirasa sebagai suatu ancaman bagi kelangsungan hidup didunia oleh kaum non-muslim, sehingga tidak menimbulkan konflik atau benturan baru dikemudian hari.

Ekspektasi tinggi terhadap bangkitnya Islam telah teranasikan seperti tersebut diatas. Oleh karena itu, setiap muslim wajib mengambil peran serta fungsinya masing-masing dengan se-siddiq, fathanah, amanah, serta se-tabligh mungkin. Grand design serta koordinasi yang kuat melalui kombinasi daya pikir, ajaran agama, nilai spiritual serta skill yang mumpuni, menjadi tugas penting yang harus di isi pada kesempatan emas ini untuk kebangkitan Islam bagi terwujudnya peradaban serta perdamaian dunia dimasa mendatang. Semoga keistiqamahan kaum muslim dalam merajut kebangkitan Islam melalui tiga domain penting tersebut mendapat respon yang baik serta terealisasi dengan bijaksana. Jangan bersedih atas apa yang telah berlalu, kecuali kalau itu bisa membuatmu bekerja lebih keras untuk apa yang akan datang  ( Umar bin Khattab).

 

Komentar