Filsafat Ilmu

 

Buku Pertama.

Judul Buku                  : Filsafat Ilmu

Penulis                         : Dr. Danial, MA

Penerbit                       : Fajar Pustaka Baru Yogyakarta

Cetakan                       : 3, Oktober 2017

Jumlah halaman          : xx +208 Halaman

ISBN                           : 978-979-95555-6-4

 

Buku Kedua.

Judul Buku                  : Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman

Penulis                         : Dr. Biyanto., M.Ag

Penerbit                       : Pustaka Pelajar Yogyakarta

Cetakan                       : 1, Mei 2015

Jumlah halaman          : x +319 Halaman

ISBN                           : 978-602-229-495-5

 

 

Mengeja Filsafat Ilmu

Kefilsafatan merupakan suatu disiplin ilmu yang patut diperhitungkan dalam kehidupan manusia. Kedua “Kitab” filsafat ini merupakan buku yang sangat ideal dimiliki oleh para penuntut ilmu pendidikan guna memahami apa dan bagaimana filsafat ilmu itu. Buku-buku ini tidak hanya terbatas keberadaannya bagi para mahasiswa saja, tetapi juga untuk semua pihak yang telah mengambil peran penting didunia pendidikan, terkhusus pendidikan Islam. Hadirnya buku ini seperti menjawab kebutuhan akan urgensinya memahami filsafat ilmu dengan baik dan bijaksana.

Eksistensi buku ini dilatarbelakangi oleh pengalaman daripada penulis dalam mengajarkan mata kuliah filsafat, filsafat ilmu, dan filsafat hukum Islam pada sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam. Penulis sekaligus staf pengajar dilembaga tersebut merasa tergugah hatinya untuk menghadirkan buku ini sebagai bentuk rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap amanah yang diembannya itu.

Pembahasan filsafat ilmu yang disajikan memberikan energi baru bagi dunia filsafat pada umumnya. Kita akan menyelami setiap pengetahuan baru tentang filsafat ilmu tanpa menanggalkan sisi rasionalitas yang kita miliki. Hal ini sejalan dengan salah satu ciri daripada filsafat itu sendiri, yaitu adanya aktivitas berpikir. Berpikir yang berkarakter dan khas, tidak bersifat dangkal dan khayalan belaka. Tuhan, manusia dan alam merupakan obyek yang dikaji dalam dimensi kefilsafatan. Filsafat itu sangat sederhana sekali tujuannya, kebenaran. Kultur perdebatan “superior” dan tanpa arah yang seolah-olah disandingkan dengan dunia filsafat telah mematikan rasa curiosity khalayak terhadap ilmu filsafat. Penggunaan istilah-istilah dalam filsafat kerap menyurutkan niat kita untuk  masuk ke dalam ruang filsafat lebih  jauh. Padahal jika ditilik lebih lanjut, kita juga bisa saja bingung dengan istilah yang muncul dalam “ mother tongue “ kita sendiri, tetapi karena telah menjadi keharusan dan habit, maka itu semua tidak akan jadi persoalan. Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang, sama halnya dengan dunia filsafat.

 Keilmuan filsafat tanpa kita sadari telah sangat berintegrasi dengan kehidupan kita sehari-hari. Untuk itulah diperlukan base knowledge bagi setiap kita untuk  dapat memahami disiplin ilmu yang satu ini. Setiap hal yang dibahas dalam “kitab” Filsafat ilmu ini, merupakan representasi dari aspek kajian penting bagi siapapun yang hendak menyelami lautan filsafat. Sudah tidak sepantasnya kata filsafat menjadi momok bagi kita semua, karena jika merujuk ke hukum asalnya, filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Anggapan bahwa, mendalami filsafat itu ibarat menikmati secangkir teh hangat dengan cemilan kesukaan bersama pasangan halal disore hari, akan mampu memberikan ghirah yang tinggi dalam menyelami dunia kefilsafatan. Hal itu harus dilakukan secara rutin dan penuh cinta. Sama halnya dengan aliran-aliran yang teramu dalam disiplin ilmu ini, mesti selalu di ulang-ulang kajiannya agar mudah dipahami. Apalagi dengan berbagai perubahan yang muncul belakangan. Seperti Idealisme yang pada perkembangannya berubah menjadi mazhab Rasionalisme, meskipun secara geneologis merupakan sintesa dari idealisme subyektif dan obyektif.  Begitu juga dengan aliran materialisme yang dalam perkembangannya memiliki beragam sekte yang berpangkal daripadanya.

Sejarah filsafat Islam dikaitkan dengan peristiwa hadirnya Aleksander Agung ke Timur Tengah pada abad IV SM. Dia tidak hanya ingin lakukan ekspansi kewilayahan untuk kekuasaannya, melainkan juga membawa pengaruh yang sangat besar dalam mengembangkan kebudayaan Yunani terhadap wilayah-wilayah yang ditaklukannya. Puncaknya, dikawasan Timur Tengah terjadilah akulturisasi dan asimilasi budaya yang ditandai oleh munculnya karya-karya terjemahan dari luar dunia Islam ke dalam Bahasa Arab. Hal ini sekaligus merupakan buah daripada konstribusi besar para filsuf serta sarjana Muslim dalam menyelamatkan khazanah Yunani, yang pada gilirannya akan diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Latin.

  Perkembangan filsafat ilmu tidak terjadi dengan serta merta. Ia berkolaborasi dengan beberapa dimensi keilmuan lainnya, ia bersifat relatif, dimana ia mampu berkembang dari waktu ke waktu. Konstribusi ilmu pengetahuan telah mampu merubah kehidupan manusia. Para pakar menyatakan bahwa filsafatlah induk dari segala ilmu pengetahuan. Kemunculan ilmu-ilmu baru diyakini atas kerja filsafat. Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS), Humaniora dan Ilmu Islam, disinyalir sebagai cikal bakal lahirnya cabang-cabang ilmu baru, baik berkembang secara linier maupun tidak. Kajian filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ditinjau dari sudut, ontologi, epistemologi dan aksiologi yang dilakukan secara radic, sistematis dan spekulatif. Ia juga diartikan sebagai suatu ilmu yang mengkaji seluk beluk dan tata cara dalam memperoleh pengetahuan, sumber pengetahuan, serta metode dan pendekatan yang digunakan untuk mendapat pengetahuan yang logis dan rasional.

 Ontologi dalam terma kefilsafatan sering dikaitkan dengan metafisika, tempat berpijak dari pemikiran filsafati, termasuk pemikiran ilmiah. Ia juga dikatakan sebagai the branch of metaphysical enquiry concerned with the study of existence itself.  Lebih lanjut, ontologi dapat dikontraskan dengan teologi dan kosmologi. Ontologi merupakan dokrin universal tentang yang ada. Teologi tentang yang ada yang absolut, sementara kosmologi dokrin tentang yang ada, yang relatif dan terbatas. Maka lingkup dari kajian ontologi meliputi, hakikat atau esensi ilmu, struktur ilmu, status ilmu, dan sumber hakiki ilmu ( Sang Maha Berilmu ).

Berangkat dari pemahaman ontologi itulah kita dapat membedakan hakikat pengetahuan yang bernama ilmu dibanding dengan jenis pengetahuan lain seperti filsafat dan agama. Era yunani kuno belumlah dapat membedakan secara tegas antara filsafat rasional baik filsafat maupun ilmu. Bahkan tidak dipungkiri jika bahwa banyak para filsuf yang sekaligus berperan sebagai ilmuan. Seperti halnya Thales, seorang yang sangat ensiklopedis, karena menguasai banyak ilmu.

Perubahan tentang perkembangan ilmu terjadi pada masa renaisans, sampai mencapai puncaknya di era Isaac Newton. Tiga komponen yang mesti dimiliki oleh ilmu yaitu, aktivitas berpikir ilmiah ( proses ), metode ilmiah ( metode ), dan kumpulan pengetahuan ( produk ). Seiring dengan perkembangannya, cabang ilmu pada abad modern semakin banyak, dilandasi oleh pemisahan yang dilakukan masing-masing ilmu tersebut.

Firman Allah SWT dan hadis nabi menyatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia itu terbatas. Akan tetapi, manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk menjangkau berbagai jenis pengetahuan. Dengan kemampuan itulah manusia memiliki ilmu. Maka jelaslah bahwa tidaklah seharusnya terdapat penghalang dari manusia itu sendiri dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya, sekalipun hal-hal yang ghaib. Karena hal tersebut dalam mempertebal kembali keyakinan terhadap Tuhannya.

Dahulu, dalam memberikan definisi ilmu lebih mudah dilakukan dibandingkan saat ini, semua itu lebih disebabkan oleh sistem filsafat apa yang dianutnya. Mengikut kepada perkembangan zaman, maka ilmu menjadi sangat mandiri dan telah mampu menjadi cabang keilmuan yang berdiri sendiri. Maka definisi ilmu tidak lagi ditinjau dari perspektif filsafat, melainkan berdasarkan pendekatan dan metode yang digunakan dalam penyelidikannya.

Teori tentang Pengetahuan itu sendiri sering disebut dengan epistemologi. Setiap pengetahuan diperoleh dari proses “tahu” dengan memanfaatkan akal (reason) dan indera atau rasa ( sense ) yang dapat mengantar manusia mencapai kebenaran. Terdapat pelbagai paradigma yang mempengaruhi epistemologi ilmu pengetahuan diantaranya seperti positivisme, fenomenologi, strukturalisme, dan post-modernisme.

Epistemologi merupakan cabang kefilsafatan yang dekat bersentuhan dengan hakikat ( nature ) dan cakupan pengetahuan, praanggapan dan dasar-dasarnya serta reliabilitas umum yang dapat digunakan untuk mengklaim bahwa sesuatu itu adalah ilmu pengetahuan.

Aksiologi adalah bagian akhir yang dari kajian filsafat ilmu. Ia merupakan teori tentang nilai ( value ) yang berkaitan dengan kegunaan pengetahuan. Nilai bermakna abstrak ataupun konkret yang digunakan manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Contoh kata nilai yang berbentuk konkrit seperti penilaian tugas resensi buku yang dilakukan oleh seorang mahasiswa telah memenuhi syarat sebagai hasil resensi yang baik atau masih diperlukannya pengayaaan oleh dosennya.

Islam menyebutkan sebanyak 105 kali kata ilm didalam al-Qur’an, lebih banyak daripada ad-din yang termaktub 103 kali. Akan tetapi dengan kata jadiannya, kata ilm terulang sebanyak 845 kali di dalam kitab suci tersebut. Maka secara esensial, kata ilmu digunakan dalam pengertian proses  pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia menjadi lebuh unggul dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dibandingkan makhluk-makhluk lain.

Ontologi ilmu keislaman tidak boleh terpisah daripada prinsip tauhid, yang terangkum dalam kalimat laa ilaha illallah. Secara rinci terdeskripsi dalam rukun iman ( arkan al-Iman ) dan rukun Islam ( arkan al-Islam ). Dalam perspektif epistemologi Islam, Al-Qura’an dan Hadis sebagai sumber mengamalkan ajaran agama, juga merupakan sumber inspirasi konstruksi berbagai jenis ilmu pengetahuan. Inilah yang membedakan hubungan ilmu pengetahuan dan agama di Barat dengan tradisi Islam.

Secara operasional sains merupakan akal manusia yang teratur dan taat asas menuju penemuan keterangan tentang pengetahuan yang benar. Kata sains dan modern identik dengan ilmu pengetahuan yang lahir pasca renaisains Perancis yang terjadi di abad ke 17 M dan 18 M. Revolusi yang  mendadak disertai energi yang luar biasa dalam pemikiran manusia saat itu, melahirkan peradaban dan kebudayaan yang sangat membanggakan. Ketika sudut pandang saat cara melihat obyek itu berubah, maka sains, masyarakat, dan dunia itu juga akan berubah. Oleh sebab itu, metode memegang peran penting dalam mencapai suatu kemajuan maupun berindikasi terhadap suatu kemunduran umat. Jelas bahwa, kehadiran orang-orang jenius tidak semata-mata menjadi suatu ukuran dalam menentukan suatu kemajuan maupun kemunduran suatu bangsa. Tetapi lebih kepada penggunaan metode penelitian dan cara melihat sesuatu.

Mukta Ali berpendapat bahwa, orang yang biasa-biasa saja itu telah menemukan metode berpikir yang benar dan utuh. Sehingga sekalipun kecerdasannya biasa, mereka dapat menemukan kebenaran, berbeda dengan orang-orang yang jenius, apabila tidak mengetahui metode yang benar dalam melihat sesuatu dan memikirkan masalahnya, maka mereka tidak dapat memanfaatkan kegeniusannya. Hal ini tergambar jelas bagaimana orang-orang Athena yang berada dalam sejarah Yunani, seperti Plato, Aristoteles dan lainnya, tidak mampu menciptakan satu roda sekalipun. Sementara di Eropa modern, seorang Thomas Alva Edison, teknisi biasa yang mampu menciptakan karya-karya orisinal diantaranya seperti sistem telepon dan telegram telah memberikan konstribusi positif bagi kemajuan dan kemaslahatan masyarakat dunia sampai saat ini.

Begitu juga dalam dunia Islam, kita akan menemui Al-Kawarizmi, Al-Jahiz dan Al-Battani, merupakan sebagian kecil dari sederetan para sarjana Muslim yang menekuni ilmu alam yang telah memberikan konstribusi hebat di Eropa pada abad modern. Al-Khawarizmi dengan aljabar dan algoritmanya, Al-Jahiz dengan sumbangan besarnya dalam bidang zologi dan biologi, serta Al-Battani dengan dunia astronominya. Filsuf sekaligus ilmuan Muslim memiliki kemahsyuran juga dalam dunia Barat. Tak terkecuali Ibn Rusyd, filsuf yang namanya banyak dikaitkan denga renaisains di Eropa. Beliau merupakan rasionalis sejati, mengomentari banyak hal tentang Aristoteles, seorang hakim yang sangat adil dan mendalami ilmu fikih.

 Kemampuan dalam mengembangkan ilmu dan teknologi di abad ini merupakan sebuah prestasi yang baik. Kemajuan-kemajuan tersebut telah memberikan kemudahan yang berdampak positif bagi dunia. Sebaliknya, ini juga tak luput dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh sains. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya reduksionis daripada sains modern, yang berimbas kepada anggapan manusia juga sebagai benda mati. Belum lagi dengan sifat utilitariannya, dimana anggapan bahwa sains itu benar adanya jika ia dapat memfungsikan perannya dalam menciptakan aneka varian teknologi. Bahkan yang lebih parahnya, terjadinya krisis global yang melahirkan penyakit-penyakit baru akibat kekeliruan daripada epistemologi Barat. Bagaimana peran serta sains modern dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya tersebut dapat kita temui di dalam buku pertama dari resensi buku ini.

Sadar akan kelemahan yang dimiliki oleh sains modern, baik dilevel ontologis, epistemologis, maupun aksiologis, maka tak pelak membuat ilmuan Muslim melakukan suatu terobosan baru guna mengislamisasikan ilmu, mengilmuisasikan Islam serta tahap pengintegrasian ilmu.

Menghadapi isu tersebut, kaum muslimin terbagi dalam tiga kelompok besar yang secara makro memiliki pandangan yang sama, hanya saja cara menyikapinya yang berbeda, tergantung kepada konsep dan sudut pandang yang dimiliki oleh masing-masing kelompok tersebut. Bahkan lembaga-lembaga keislaman juga mengambil peran penting dalam mendedikasikan keberadaannya terhadap gerakan Islamisasi dan integrasi ilmu tersebut. Tercatat, Ismaīl Rajī Al-Farūqi menerbitkan buku yang bertema “ Islamisasi Ilmu Pengetahuan “ dalam istilah yang dimunculkannya sendiri. Konsep Islamisasi serta intergasi ilmu tersebut tidaklah hanya terbatas menjadi hangat pada saat-saat kaum Muslim menyadari kekurangan yang dimiliki oleh sains modern pada saat itu. Ia tidak akan mungkin mencapai tujuannya jika pada era sekarang kita malah semakin terlena dan tidak mengambil peran penting sebagai pembaharu dalam kancah peradaban Islam berikutnya. Ketakutan dan keegoisan yang kita miliki telah menyingkirkan rasa tanggungjawab kita selaku  manusia yang berperan sebagai khalifah  dimuka bumi ini. Konsep serta langkah-langkah islamisasi ilmu, ilmuisasi Islam serta integrasi ilmu yang ditawarkan oleh para tokoh Islam, sudah semestinya kita indahkan dan dengan sepenuh hati menjalankannya. Konsep dari konteks menuju teks ( Al-Qur’an dan hadis ) dan konsep dari teks menuju konteks merupakan dua hal yang mempunyai tujuan sama yaitu, sains Islam. Maka sudah sepantasnya kita bersinergi dalam membentuk peradaban baru dalam menjayakan Islam dimasa sekarang dan dimasa mendatang.

Pada akhirnya kita dapat memahami bahwa, tujuan dari filsafat ilmu sesungguhnya untuk lebih fokus mendalami unsur pokok dari suatu ilmu, sehingga dapat dipahami secara menyeluruh tentang sumber, hakikat, dan tujuan dari ilmu. Kemudian, mengetahui bagaimana perkembangan daripada sejarah kemajuan ilmu di berbagai bidang sejak zaman Yunani Kuno sampai post-moderenisme. Hal terakhir yang paling penting adalah mempertegas sikap bahwa antara ilmu dan agama sesungguhnya tidak memiliki pertentangan.

“Risalah-risalah” ini memiliki kelebihannya tersendiri. Dimulai dengan pengelompokan topik secara sistematis, guna memahami filsafat ilmu secara utuh, sampai kepada tokoh-tokoh yang disebutkan beserta konstribusinya dalam kefilsafatan. Meskipun tidak secara terinci, namun hal tersebut bisa dijadikan rujukan untuk para pembelajar filsafat dalam memperkaya khazanah kefilsafatannya nanti dalam mengenal tokoh-tokoh tersebut lebih dekat dari berbagai referensi lain. Buku pertama  memberikan pemetaan kajian berupa table dengan sangat apik, ini memudahkan para pembacanya mampu memahaminya dengan baik. Namun sayangnya, dalam hal memunculkan beberapa pemikir Islam sekaligus pokok keilmuannya sangatlah sedikit sekali. Belum lagi beberapa rujukan yang disandarkan kepada Al Qur’an, namun hanya mengutip surah, ayat dan pokok bahasannya saja, tidak mencantumkan teks terjemahan secara keseluruhan. Hal ini dirasa perlu, mengingat agar mudah memahami tentang sub topik yang ingin dijelaskan dari kacamata keislaman. Dari segi cover, kedua buku ini memiliki ketertarikan yang luar biasa, dikemas dengan desain yang good looking dan tidak membuat siapapun yang ingin menambah pengetahuan darinya mundur teratur karena desain yang terkesan “berat”. Di buku kedua kita akan menemukan konten sejarah filasat Islam dan ilmu-ilmu keislaman ( Islamic Sciences ) yang kerap sekali mendapat tempat dalam buku-buku filsafat ilmu.

 Pada dasarnya, segala yang berwujud itu telah memerankan fungsinya masing-masing. Tidak terkecuali dengan hadirnya buku ini. Buku pertama mengupas segala hal tentang samudera filsafat ilmu dengan gaya bahasa yang melatarbelakangi penulis. Tingkat keilmiahan yang disodorkan sedikit mengalami kepayahan dalam memahaminya, dibandingkan dengan gaya bahasa sederhana yang disampaikan dalam buku kedua. Secara substansi, pada buku kedua kita akan menemui bagaimana sejarah dunia kefilsafatan dibeberapa negara, berbeda dengan buku pertama. Padahal, hal tersebut menjadi pintu masuk bagi kita untuk mengenal akan eksisnya filsafat sejauh ini. Posisi footnote yang digantikan dalam bentuk catatan pada setiap akhir bab pembahasan yang kita temui didalam buku “Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman”, menggiring kita untuk tidak bersentuhan secara langsung dengan berbagai referensi dengan baik. Ketersediaan glossary dalam  “Filsafat Ilmu” memudahkan siapapun dalam memahami pelbagai istilah dalam cuaca pemikiran kefilsafatan. Secara keseluruhan, buku-buku ini menggunakan kertas HVS putih yang tidak begitu terang, hal ini menyebabkan kelelahan pada mata dalam membaca sebuah buku dengan ketebalan diatas 100 halaman.    

Terakhir, kehadiran buku “Filsafat Ilmu” dan “Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman”, sangat patut untuk kita apresiasikan. Keduanya sangat tepat direkomendasikan sebagai buku pegangan wajib untuk seluruh para mahasiswa dalam memahami kajian filsafat ilmu. Begitu juga kepada seluruh pihak dilingkungan dunia pendidikan Islam dalam merevitalitasikan semangat pendidikan Islam guna terbentuknya  jiwa-jiwa Islam yang bijaksana. Bagi khalayak umum yang ingin memperkaya khazanah pendidikan keislamannya juga patut memiliki kedua “ risalah” ini ditengah-tengah perpustakaan keluarga muslimnya.

 

Judul Buku                  : Hadis Tarbawi ( Pendidikan dalam Perspektif Hadis)

Penulis                        : Bukhari Umar., M. Ag

Penerbit                       : Amzah - Jakarta

Cetakan                       : 2, Maret 2014

Jumlah halaman          : xii +212 Halaman

ISBN                           : 978-602-8689-70-0

 

Buku Hadis Tarbawi ( Pendidikan Dalam Perspektif Hadis) adalah sebuah buku yang sangat ideal untuk dimiliki oleh para penuntut ilmu pendidikan guna memahami bagaimana pendidikan secara komprehensif dalam dimensi Sunnah. Buku ini tidak hanya terbatas keberadaannya bagi para mahasiswa saja, tetapi juga untuk semua pihak yang telah mengambil peran penting didunia pendidikan, terkhusus pendidikan Islam. Hadirnya buku ini seperti menjawab kebutuhan yang sangat urgen didunia pendidikan itu sendiri.

Eksistensi buku ini dilatarbelakangi oleh perkembangan kurikulum dari sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam yang mengharuskan para peserta didiknya untuk memahami mata kuliah Hadis Tarbawi. Penulis sekaligus staf pengajar dilembaga tersebut merasa tergugah hatinya untuk menghadirkan buku ini sebagai bentuk rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap amanah yang diembannya itu.

Buku ini menyajikan sepuluh bab utama yang akan dijabarkan kedalam beberapa topik bahasan, setiap bahasan akan dilengkapi dengan hadis-hadis yang relevan. Kita akan dibawa untuk menyelami setiap bab yang mengharuskan kita untuk tidak akan berhenti melanjutkan setiap halamannya. Dimulai dari bab satu tentang Kewajiban Belajar, kita akan menemukan petunjuk bagaimana wajibnya dalam menuntut ilmu serta urgensi ilmu itu sendiri bagi seorang muslim. Kedua, Tujuan Pendidikan Islam.  Mungkin kita terlupa bahwa menjadi insan kamil, menanaman nilai-nilai ketakwaan serta tercapainya pertumbuhan yang seimbang secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan, dan pancaindra merupakan esensi tujuan pendidikan Islam. Ketiga, Materi Pendidikan Islam. Islam telah membagi materi pendidikan yang mesti diajarkan kepada peserta didik secara tepat dan Insyaallah tidak akan tergerus oleh ruang dan waktu.

Keempat, bab tentang Pendidik. Ini merupakan bab yang sangat sensitif, mengingat sentral dari pada pendidikan adalah adanya figur yang mendidik. Bab ini menjabarkan banyak hal tentang pendidik, diantaranya kedudukan, syarat serta sifat dari pendidik. Selanjutnya bab Peserta Didik, siapa saja yang masih berkembang baik fisik maupun psikisnya dan mengikuti proses pembelajaran, maka dikategorikan sebagai peserta didik. Keutamaan menjadi peserta didik, syarat dan karakteristik peserta didik dijelaskan semua dalam berbagai hadis disini. Keenam, Metode Pendidikan Islam, membahas tentang keteladanan Rasulullah dalam menyampaikan ilmu. Ketujuh, Media Pendidikan Islam, bagaimana penggunaan berbagai media dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik dan bervariasi juga tak luput dalam pembahasan buku ini. Kedelapan, bab Lingkungan Pendidikan Islam, membahas dengan rinci bagaimana keluarga, teman bahkan setan mempengaruhi perkembangan peserta didik. Kesembilan, Pendekatan Pendidikan Islam, menjelaskan pendekatan yang mesti diaplikasi untuk memahamkan suatu ilmu kepada peserta didik. Bab yang terakhir, Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, memaparkan bagaimana proses evaluasi suatu ilmu yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor para peserta didik dalam Islam.

Kelebihan buku ini adalah metode pengelompokan hadis-hadis kedalam setiap tema yang diangkat berdasarkan Sunnah, sangat jelas, mudah dipahami serta inspiratif. Pendekatan tematis yang ditawarkan dalam buku ini sangat tepat dan bisa menjadi referensi dasar didunia pendidikan.

Sebaliknya, kekurangan yang dimiliki oleh buku ini adalah, secara substansi, tidak termuatnya sebahagian daripada ayat-ayat Al Quran yang disebutkan didalamnya, hanya terbatas kepada penulisan nama surah dan ayat keberapa saja. Padahal itu bisa mempermudah para pembaca untuk memahami arti dari surah dan ayat tersebut secara langsung. Berikutnya, secara keseluruhan buku ini menggunakan kertas HVS putih yang tidak begitu terang, hal ini menyebabkan kelelahan pada mata dalam membaca sebuah buku dengan ketebalan diatas 100 halaman, ditambahkan lagi dengan Lay out yang digunakan terkesan seperti sebuah buku yang usang.

Buku ini sangat direkomendasikan sebagai buku pegangan wajib untuk seluruh para pendidik serta mahasiswa kependidikan dalam melejitkan potensi diri agar menjadi pendidik yang kapabel dan di ridhai Allah SWT. Begitu juga seluruh pihak dilingkungan pendidikan Islam dalam merevitalitasikan semangat pendidikan Islam guna terbentuknya kurikulum Islam yang berkualitas. Bagi khalayak umum yang ingin memperkaya khazanah pendidikan keislamannya juga patut memiliki buku Hadis Tarbawi ini ditengah-tengah keluarga muslimnya.

 

 

 

Komentar