Buku Pertama.
Judul Buku : Filsafat Ilmu
Penulis : Dr. Danial, MA
Penerbit : Fajar Pustaka Baru
Yogyakarta
Cetakan : 3, Oktober 2017
Jumlah
halaman : xx +208 Halaman
ISBN : 978-979-95555-6-4
Buku Kedua.
Judul Buku : Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman
Penulis : Dr. Biyanto., M.Ag
Penerbit : Pustaka Pelajar
Yogyakarta
Cetakan : 1, Mei 2015
Jumlah
halaman : x +319 Halaman
ISBN : 978-602-229-495-5
Mengeja
Filsafat Ilmu
Kefilsafatan merupakan suatu disiplin ilmu yang patut diperhitungkan
dalam kehidupan manusia. Kedua “Kitab” filsafat ini merupakan buku yang sangat
ideal dimiliki oleh para penuntut ilmu pendidikan guna memahami apa dan
bagaimana filsafat ilmu itu. Buku-buku ini tidak hanya terbatas keberadaannya
bagi para mahasiswa saja, tetapi juga untuk semua pihak yang telah mengambil peran
penting didunia pendidikan, terkhusus pendidikan Islam. Hadirnya buku ini
seperti menjawab kebutuhan akan urgensinya memahami filsafat ilmu dengan baik
dan bijaksana.
Eksistensi buku ini dilatarbelakangi oleh pengalaman daripada penulis
dalam mengajarkan mata kuliah filsafat, filsafat ilmu, dan filsafat hukum Islam
pada sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam. Penulis sekaligus staf pengajar
dilembaga tersebut merasa tergugah hatinya untuk menghadirkan buku ini sebagai
bentuk rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap amanah yang diembannya itu.
Pembahasan filsafat ilmu yang disajikan memberikan energi baru bagi dunia
filsafat pada umumnya. Kita akan menyelami setiap pengetahuan baru tentang
filsafat ilmu tanpa menanggalkan sisi rasionalitas yang kita miliki. Hal ini
sejalan dengan salah satu ciri daripada filsafat itu sendiri, yaitu adanya
aktivitas berpikir. Berpikir yang berkarakter dan khas, tidak bersifat dangkal
dan khayalan belaka. Tuhan, manusia dan alam merupakan obyek yang dikaji dalam
dimensi kefilsafatan. Filsafat itu sangat sederhana sekali tujuannya,
kebenaran. Kultur perdebatan “superior”
dan tanpa arah yang seolah-olah disandingkan dengan dunia filsafat telah
mematikan rasa curiosity khalayak
terhadap ilmu filsafat. Penggunaan istilah-istilah dalam filsafat kerap
menyurutkan niat kita untuk masuk ke
dalam ruang filsafat lebih jauh. Padahal
jika ditilik lebih lanjut, kita juga bisa saja bingung dengan istilah yang
muncul dalam “ mother tongue “ kita
sendiri, tetapi karena telah menjadi keharusan dan habit, maka itu semua tidak akan jadi persoalan. Ibarat pepatah,
tak kenal maka tak sayang, sama halnya dengan dunia filsafat.
Keilmuan filsafat tanpa kita
sadari telah sangat berintegrasi dengan kehidupan kita sehari-hari. Untuk
itulah diperlukan base knowledge bagi
setiap kita untuk dapat memahami
disiplin ilmu yang satu ini. Setiap hal yang dibahas dalam “kitab” Filsafat
ilmu ini, merupakan representasi dari aspek kajian penting bagi siapapun yang
hendak menyelami lautan filsafat. Sudah tidak sepantasnya kata filsafat menjadi
momok bagi kita semua, karena jika
merujuk ke hukum asalnya, filsafat adalah cinta kebijaksanaan. Anggapan bahwa,
mendalami filsafat itu ibarat menikmati secangkir teh hangat dengan cemilan
kesukaan bersama pasangan halal disore hari, akan mampu memberikan ghirah yang tinggi dalam menyelami
dunia kefilsafatan. Hal itu harus dilakukan secara rutin dan penuh cinta. Sama
halnya dengan aliran-aliran yang teramu dalam disiplin ilmu ini, mesti selalu
di ulang-ulang kajiannya agar mudah dipahami. Apalagi dengan berbagai perubahan
yang muncul belakangan. Seperti Idealisme yang pada perkembangannya berubah
menjadi mazhab Rasionalisme, meskipun secara geneologis merupakan sintesa dari
idealisme subyektif dan obyektif. Begitu
juga dengan aliran materialisme yang dalam perkembangannya memiliki beragam
sekte yang berpangkal daripadanya.
Sejarah filsafat Islam dikaitkan dengan peristiwa hadirnya Aleksander
Agung ke Timur Tengah pada abad IV SM. Dia tidak hanya ingin lakukan ekspansi
kewilayahan untuk kekuasaannya, melainkan juga membawa pengaruh yang sangat
besar dalam mengembangkan kebudayaan Yunani terhadap wilayah-wilayah yang
ditaklukannya. Puncaknya, dikawasan Timur Tengah terjadilah akulturisasi dan
asimilasi budaya yang ditandai oleh munculnya karya-karya terjemahan dari luar
dunia Islam ke dalam Bahasa Arab. Hal ini sekaligus merupakan buah daripada
konstribusi besar para filsuf serta sarjana Muslim dalam menyelamatkan khazanah
Yunani, yang pada gilirannya akan diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Latin.
Perkembangan filsafat ilmu tidak
terjadi dengan serta merta. Ia berkolaborasi dengan beberapa dimensi keilmuan
lainnya, ia bersifat relatif, dimana ia mampu berkembang dari waktu ke waktu.
Konstribusi ilmu pengetahuan telah mampu merubah kehidupan manusia. Para pakar
menyatakan bahwa filsafatlah induk dari segala ilmu pengetahuan. Kemunculan
ilmu-ilmu baru diyakini atas kerja filsafat. Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA), Ilmu
Pengetahuan Sosial ( IPS), Humaniora dan Ilmu Islam, disinyalir sebagai cikal
bakal lahirnya cabang-cabang ilmu baru, baik berkembang secara linier maupun
tidak. Kajian filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab
beberapa pertanyaan mengenai hakikat ditinjau dari sudut, ontologi,
epistemologi dan aksiologi yang dilakukan secara radic, sistematis dan spekulatif. Ia juga diartikan sebagai suatu
ilmu yang mengkaji seluk beluk dan tata cara dalam memperoleh pengetahuan,
sumber pengetahuan, serta metode dan pendekatan yang digunakan untuk mendapat
pengetahuan yang logis dan rasional.
Ontologi dalam terma kefilsafatan
sering dikaitkan dengan metafisika, tempat berpijak dari pemikiran filsafati,
termasuk pemikiran ilmiah. Ia juga dikatakan sebagai the branch of metaphysical enquiry concerned with the study of
existence itself. Lebih lanjut,
ontologi dapat dikontraskan dengan teologi dan kosmologi. Ontologi merupakan
dokrin universal tentang yang ada. Teologi tentang yang ada yang absolut,
sementara kosmologi dokrin tentang yang ada, yang relatif dan terbatas. Maka
lingkup dari kajian ontologi meliputi, hakikat atau esensi ilmu, struktur ilmu,
status ilmu, dan sumber hakiki ilmu ( Sang Maha Berilmu ).
Berangkat dari pemahaman ontologi itulah kita dapat membedakan hakikat
pengetahuan yang bernama ilmu dibanding dengan jenis pengetahuan lain seperti
filsafat dan agama. Era yunani kuno belumlah dapat membedakan secara tegas
antara filsafat rasional baik filsafat maupun ilmu. Bahkan tidak dipungkiri jika
bahwa banyak para filsuf yang sekaligus berperan sebagai ilmuan. Seperti halnya
Thales, seorang yang sangat ensiklopedis, karena menguasai banyak ilmu.
Perubahan tentang perkembangan ilmu terjadi pada masa renaisans, sampai
mencapai puncaknya di era Isaac Newton. Tiga komponen yang mesti dimiliki oleh
ilmu yaitu, aktivitas berpikir ilmiah ( proses ), metode ilmiah ( metode ), dan
kumpulan pengetahuan ( produk ). Seiring dengan perkembangannya, cabang ilmu
pada abad modern semakin banyak, dilandasi oleh pemisahan yang dilakukan
masing-masing ilmu tersebut.
Firman Allah SWT dan hadis nabi menyatakan bahwa ilmu pengetahuan manusia
itu terbatas. Akan tetapi, manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk menjangkau
berbagai jenis pengetahuan. Dengan kemampuan itulah manusia memiliki ilmu. Maka
jelaslah bahwa tidaklah seharusnya terdapat penghalang dari manusia itu sendiri
dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya, sekalipun hal-hal yang ghaib. Karena
hal tersebut dalam mempertebal kembali keyakinan terhadap Tuhannya.
Dahulu, dalam memberikan definisi ilmu lebih mudah dilakukan dibandingkan
saat ini, semua itu lebih disebabkan oleh sistem filsafat apa yang dianutnya.
Mengikut kepada perkembangan zaman, maka ilmu menjadi sangat mandiri dan telah
mampu menjadi cabang keilmuan yang berdiri sendiri. Maka definisi ilmu tidak
lagi ditinjau dari perspektif filsafat, melainkan berdasarkan pendekatan dan
metode yang digunakan dalam penyelidikannya.
Teori tentang Pengetahuan itu sendiri sering disebut dengan epistemologi.
Setiap pengetahuan diperoleh dari proses “tahu” dengan memanfaatkan akal (reason) dan indera atau rasa ( sense ) yang dapat mengantar manusia mencapai
kebenaran. Terdapat pelbagai paradigma yang mempengaruhi epistemologi ilmu
pengetahuan diantaranya seperti positivisme, fenomenologi, strukturalisme, dan
post-modernisme.
Epistemologi merupakan cabang kefilsafatan yang dekat bersentuhan dengan
hakikat ( nature ) dan cakupan
pengetahuan, praanggapan dan dasar-dasarnya serta reliabilitas umum yang dapat
digunakan untuk mengklaim bahwa sesuatu itu adalah ilmu pengetahuan.
Aksiologi adalah bagian akhir yang dari kajian filsafat ilmu. Ia
merupakan teori tentang nilai ( value
) yang berkaitan dengan kegunaan pengetahuan. Nilai bermakna abstrak ataupun
konkret yang digunakan manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang
apa yang dinilai. Contoh kata nilai yang berbentuk konkrit seperti penilaian tugas
resensi buku yang dilakukan oleh seorang mahasiswa telah memenuhi syarat
sebagai hasil resensi yang baik atau masih diperlukannya pengayaaan oleh
dosennya.
Islam menyebutkan sebanyak 105 kali kata ilm didalam al-Qur’an, lebih banyak daripada ad-din yang termaktub 103 kali. Akan tetapi dengan kata jadiannya,
kata ilm terulang sebanyak 845 kali
di dalam kitab suci tersebut. Maka secara esensial, kata ilmu digunakan dalam
pengertian proses pengetahuan dan objek
pengetahuan. Dalam al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia
menjadi lebuh unggul dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dibandingkan
makhluk-makhluk lain.
Ontologi ilmu keislaman tidak boleh terpisah daripada prinsip tauhid,
yang terangkum dalam kalimat laa ilaha
illallah. Secara rinci terdeskripsi dalam rukun iman ( arkan al-Iman ) dan rukun Islam ( arkan al-Islam ). Dalam perspektif epistemologi Islam, Al-Qura’an
dan Hadis sebagai sumber mengamalkan ajaran agama, juga merupakan sumber
inspirasi konstruksi berbagai jenis ilmu pengetahuan. Inilah yang membedakan
hubungan ilmu pengetahuan dan agama di Barat dengan tradisi Islam.
Secara operasional sains merupakan akal manusia yang teratur dan taat
asas menuju penemuan keterangan tentang pengetahuan yang benar. Kata sains dan
modern identik dengan ilmu pengetahuan yang lahir pasca renaisains Perancis
yang terjadi di abad ke 17 M dan 18 M. Revolusi yang mendadak disertai energi yang luar biasa
dalam pemikiran manusia saat itu, melahirkan peradaban dan kebudayaan yang
sangat membanggakan. Ketika sudut pandang saat cara melihat obyek itu berubah,
maka sains, masyarakat, dan dunia itu juga akan berubah. Oleh sebab itu, metode
memegang peran penting dalam mencapai suatu kemajuan maupun berindikasi
terhadap suatu kemunduran umat. Jelas bahwa, kehadiran orang-orang jenius tidak
semata-mata menjadi suatu ukuran dalam menentukan suatu kemajuan maupun
kemunduran suatu bangsa. Tetapi lebih kepada penggunaan metode penelitian dan
cara melihat sesuatu.
Mukta Ali berpendapat bahwa, orang yang biasa-biasa saja itu telah
menemukan metode berpikir yang benar dan utuh. Sehingga sekalipun kecerdasannya
biasa, mereka dapat menemukan kebenaran, berbeda dengan orang-orang yang
jenius, apabila tidak mengetahui metode yang benar dalam melihat sesuatu dan
memikirkan masalahnya, maka mereka tidak dapat memanfaatkan kegeniusannya. Hal
ini tergambar jelas bagaimana orang-orang Athena yang berada dalam sejarah
Yunani, seperti Plato, Aristoteles dan lainnya, tidak mampu menciptakan satu
roda sekalipun. Sementara di Eropa modern, seorang Thomas Alva Edison, teknisi
biasa yang mampu menciptakan karya-karya orisinal diantaranya seperti sistem telepon
dan telegram telah memberikan konstribusi positif bagi kemajuan dan
kemaslahatan masyarakat dunia sampai saat ini.
Begitu juga dalam dunia Islam, kita akan menemui Al-Kawarizmi, Al-Jahiz
dan Al-Battani, merupakan sebagian kecil dari sederetan para sarjana Muslim
yang menekuni ilmu alam yang telah memberikan konstribusi hebat di Eropa pada
abad modern. Al-Khawarizmi dengan aljabar dan algoritmanya, Al-Jahiz dengan sumbangan
besarnya dalam bidang zologi dan biologi, serta Al-Battani dengan dunia
astronominya. Filsuf sekaligus ilmuan Muslim memiliki kemahsyuran juga dalam
dunia Barat. Tak terkecuali Ibn Rusyd, filsuf yang namanya banyak dikaitkan
denga renaisains di Eropa. Beliau merupakan rasionalis sejati, mengomentari
banyak hal tentang Aristoteles, seorang hakim yang sangat adil dan mendalami
ilmu fikih.
Kemampuan dalam mengembangkan ilmu
dan teknologi di abad ini merupakan sebuah prestasi yang baik. Kemajuan-kemajuan
tersebut telah memberikan kemudahan yang berdampak positif bagi dunia. Sebaliknya,
ini juga tak luput dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh sains.
Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya reduksionis daripada sains
modern, yang berimbas kepada anggapan manusia juga sebagai benda mati. Belum
lagi dengan sifat utilitariannya, dimana anggapan bahwa sains itu benar adanya
jika ia dapat memfungsikan perannya dalam menciptakan aneka varian teknologi.
Bahkan yang lebih parahnya, terjadinya krisis global yang melahirkan
penyakit-penyakit baru akibat kekeliruan daripada epistemologi Barat. Bagaimana
peran serta sains modern dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya tersebut
dapat kita temui di dalam buku pertama dari resensi buku ini.
Sadar akan kelemahan yang dimiliki oleh sains modern, baik dilevel
ontologis, epistemologis, maupun aksiologis, maka tak pelak membuat ilmuan
Muslim melakukan suatu terobosan baru guna mengislamisasikan ilmu,
mengilmuisasikan Islam serta tahap pengintegrasian ilmu.
Menghadapi isu tersebut, kaum muslimin terbagi dalam tiga kelompok besar
yang secara makro memiliki pandangan yang sama, hanya saja cara menyikapinya
yang berbeda, tergantung kepada konsep dan sudut pandang yang dimiliki oleh
masing-masing kelompok tersebut. Bahkan lembaga-lembaga keislaman juga mengambil
peran penting dalam mendedikasikan keberadaannya terhadap gerakan Islamisasi
dan integrasi ilmu tersebut. Tercatat, Ismaīl Rajī Al-Farūqi menerbitkan buku
yang bertema “ Islamisasi Ilmu Pengetahuan “ dalam istilah yang dimunculkannya
sendiri. Konsep Islamisasi serta intergasi ilmu tersebut tidaklah hanya
terbatas menjadi hangat pada saat-saat kaum Muslim menyadari kekurangan yang
dimiliki oleh sains modern pada saat itu. Ia tidak akan mungkin mencapai
tujuannya jika pada era sekarang kita malah semakin terlena dan tidak mengambil
peran penting sebagai pembaharu dalam kancah peradaban Islam berikutnya.
Ketakutan dan keegoisan yang kita miliki telah menyingkirkan rasa tanggungjawab
kita selaku manusia yang berperan
sebagai khalifah dimuka bumi ini. Konsep
serta langkah-langkah islamisasi ilmu, ilmuisasi Islam serta integrasi ilmu
yang ditawarkan oleh para tokoh Islam, sudah semestinya kita indahkan dan
dengan sepenuh hati menjalankannya. Konsep dari konteks menuju teks ( Al-Qur’an
dan hadis ) dan konsep dari teks menuju konteks merupakan dua hal yang
mempunyai tujuan sama yaitu, sains Islam. Maka sudah sepantasnya kita
bersinergi dalam membentuk peradaban baru dalam menjayakan Islam dimasa
sekarang dan dimasa mendatang.
Pada akhirnya kita dapat memahami bahwa, tujuan dari filsafat ilmu
sesungguhnya untuk lebih fokus mendalami unsur pokok dari suatu ilmu, sehingga
dapat dipahami secara menyeluruh tentang sumber, hakikat, dan tujuan dari ilmu.
Kemudian, mengetahui bagaimana perkembangan daripada sejarah kemajuan ilmu di
berbagai bidang sejak zaman Yunani Kuno sampai post-moderenisme. Hal terakhir
yang paling penting adalah mempertegas sikap bahwa antara ilmu dan agama
sesungguhnya tidak memiliki pertentangan.
“Risalah-risalah” ini memiliki kelebihannya tersendiri. Dimulai dengan pengelompokan
topik secara sistematis, guna memahami filsafat ilmu secara utuh, sampai kepada
tokoh-tokoh yang disebutkan beserta konstribusinya dalam kefilsafatan. Meskipun
tidak secara terinci, namun hal tersebut bisa dijadikan rujukan untuk para
pembelajar filsafat dalam memperkaya khazanah kefilsafatannya nanti dalam
mengenal tokoh-tokoh tersebut lebih dekat dari berbagai referensi lain. Buku
pertama memberikan pemetaan kajian
berupa table dengan sangat apik, ini memudahkan para pembacanya mampu
memahaminya dengan baik. Namun sayangnya, dalam hal memunculkan beberapa
pemikir Islam sekaligus pokok keilmuannya sangatlah sedikit sekali. Belum lagi
beberapa rujukan yang disandarkan kepada Al Qur’an, namun hanya mengutip surah,
ayat dan pokok bahasannya saja, tidak mencantumkan teks terjemahan secara
keseluruhan. Hal ini dirasa perlu, mengingat agar mudah memahami tentang sub
topik yang ingin dijelaskan dari kacamata keislaman. Dari segi cover, kedua buku ini memiliki ketertarikan yang luar biasa, dikemas
dengan desain yang good looking dan
tidak membuat siapapun yang ingin menambah pengetahuan darinya mundur teratur
karena desain yang terkesan “berat”. Di buku kedua kita akan menemukan konten
sejarah filasat Islam dan ilmu-ilmu keislaman ( Islamic Sciences ) yang kerap sekali mendapat tempat dalam
buku-buku filsafat ilmu.
Pada dasarnya, segala yang berwujud itu telah
memerankan fungsinya masing-masing. Tidak terkecuali dengan hadirnya buku ini.
Buku pertama mengupas segala hal tentang samudera filsafat ilmu dengan gaya
bahasa yang melatarbelakangi penulis. Tingkat keilmiahan yang disodorkan
sedikit mengalami kepayahan dalam memahaminya, dibandingkan dengan gaya bahasa sederhana
yang disampaikan dalam buku kedua. Secara substansi, pada buku kedua kita akan
menemui bagaimana sejarah dunia kefilsafatan dibeberapa negara, berbeda dengan
buku pertama. Padahal, hal tersebut menjadi pintu masuk bagi kita untuk
mengenal akan eksisnya filsafat sejauh ini. Posisi footnote yang digantikan dalam bentuk catatan pada setiap akhir bab
pembahasan yang kita temui didalam buku “Filsafat Ilmu dan Ilmu Keislaman”,
menggiring kita untuk tidak bersentuhan secara langsung dengan berbagai
referensi dengan baik. Ketersediaan glossary
dalam “Filsafat Ilmu” memudahkan
siapapun dalam memahami pelbagai istilah dalam cuaca pemikiran kefilsafatan. Secara
keseluruhan, buku-buku ini menggunakan kertas HVS putih yang tidak begitu terang, hal ini menyebabkan kelelahan
pada mata dalam membaca sebuah buku dengan ketebalan diatas 100 halaman.
Terakhir, kehadiran buku “Filsafat Ilmu” dan “Filsafat Ilmu dan Ilmu
Keislaman”, sangat patut untuk kita apresiasikan. Keduanya sangat tepat direkomendasikan
sebagai buku pegangan wajib untuk seluruh para mahasiswa dalam memahami kajian
filsafat ilmu. Begitu juga kepada seluruh pihak dilingkungan dunia pendidikan
Islam dalam merevitalitasikan semangat pendidikan Islam guna terbentuknya jiwa-jiwa Islam yang bijaksana. Bagi khalayak
umum yang ingin memperkaya khazanah pendidikan keislamannya juga patut memiliki
kedua “ risalah” ini ditengah-tengah perpustakaan keluarga muslimnya.
Judul Buku : Hadis Tarbawi ( Pendidikan
dalam Perspektif Hadis)
Penulis : Bukhari Umar., M. Ag
Penerbit : Amzah - Jakarta
Cetakan : 2, Maret 2014
Jumlah
halaman : xii +212 Halaman
ISBN : 978-602-8689-70-0
Buku Hadis Tarbawi ( Pendidikan Dalam Perspektif Hadis) adalah sebuah
buku yang sangat ideal untuk dimiliki oleh para penuntut ilmu pendidikan guna
memahami bagaimana pendidikan secara komprehensif dalam dimensi Sunnah. Buku ini tidak hanya terbatas
keberadaannya bagi para mahasiswa saja, tetapi juga untuk semua pihak yang
telah mengambil peran penting didunia pendidikan, terkhusus pendidikan Islam.
Hadirnya buku ini seperti menjawab kebutuhan yang sangat urgen didunia
pendidikan itu sendiri.
Eksistensi buku ini dilatarbelakangi oleh perkembangan kurikulum dari
sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam yang mengharuskan para peserta didiknya
untuk memahami mata kuliah Hadis Tarbawi. Penulis sekaligus staf pengajar
dilembaga tersebut merasa tergugah hatinya untuk menghadirkan buku ini sebagai
bentuk rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap amanah yang diembannya itu.
Buku ini menyajikan sepuluh bab utama yang akan dijabarkan kedalam
beberapa topik bahasan, setiap bahasan akan dilengkapi dengan hadis-hadis yang
relevan. Kita akan dibawa untuk menyelami setiap bab yang mengharuskan kita
untuk tidak akan berhenti melanjutkan setiap halamannya. Dimulai dari bab satu
tentang Kewajiban Belajar, kita akan menemukan petunjuk bagaimana wajibnya
dalam menuntut ilmu serta urgensi ilmu itu sendiri bagi seorang muslim. Kedua,
Tujuan Pendidikan Islam. Mungkin kita
terlupa bahwa menjadi insan kamil, menanaman nilai-nilai ketakwaan serta
tercapainya pertumbuhan yang seimbang secara total melalui pelatihan spiritual,
kecerdasan, rasio, perasaan, dan pancaindra merupakan esensi tujuan pendidikan
Islam. Ketiga, Materi Pendidikan Islam. Islam telah membagi materi pendidikan
yang mesti diajarkan kepada peserta didik secara tepat dan Insyaallah tidak akan tergerus oleh ruang dan waktu.
Keempat, bab tentang Pendidik.
Ini merupakan bab yang sangat sensitif, mengingat sentral dari pada pendidikan
adalah adanya figur yang mendidik. Bab ini menjabarkan banyak hal tentang
pendidik, diantaranya kedudukan, syarat serta sifat dari pendidik. Selanjutnya
bab Peserta Didik, siapa saja yang masih berkembang baik fisik maupun psikisnya
dan mengikuti proses pembelajaran, maka dikategorikan sebagai peserta didik.
Keutamaan menjadi peserta didik, syarat dan karakteristik peserta didik
dijelaskan semua dalam berbagai hadis disini. Keenam, Metode Pendidikan Islam,
membahas tentang keteladanan Rasulullah dalam menyampaikan ilmu. Ketujuh, Media
Pendidikan Islam, bagaimana penggunaan berbagai media dalam menghadirkan
pembelajaran yang menarik dan bervariasi juga tak luput dalam pembahasan buku ini.
Kedelapan, bab Lingkungan Pendidikan Islam, membahas dengan rinci bagaimana
keluarga, teman bahkan setan mempengaruhi perkembangan peserta didik.
Kesembilan, Pendekatan Pendidikan Islam, menjelaskan pendekatan yang mesti
diaplikasi untuk memahamkan suatu ilmu kepada peserta didik. Bab yang terakhir,
Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, memaparkan bagaimana proses evaluasi suatu
ilmu yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor para peserta didik
dalam Islam.
Kelebihan buku ini adalah metode pengelompokan hadis-hadis kedalam setiap
tema yang diangkat berdasarkan Sunnah,
sangat jelas, mudah dipahami serta inspiratif. Pendekatan tematis yang
ditawarkan dalam buku ini sangat tepat dan bisa menjadi referensi dasar didunia
pendidikan.
Sebaliknya, kekurangan yang dimiliki oleh buku ini adalah, secara
substansi, tidak termuatnya sebahagian daripada ayat-ayat Al Quran yang disebutkan
didalamnya, hanya terbatas kepada penulisan nama surah dan ayat keberapa saja.
Padahal itu bisa mempermudah para pembaca untuk memahami arti dari surah dan
ayat tersebut secara langsung. Berikutnya, secara keseluruhan buku ini
menggunakan kertas HVS putih yang
tidak begitu terang, hal ini menyebabkan kelelahan pada mata dalam membaca
sebuah buku dengan ketebalan diatas 100 halaman, ditambahkan lagi dengan Lay out yang digunakan terkesan seperti
sebuah buku yang usang.
Buku ini sangat direkomendasikan sebagai buku pegangan wajib untuk
seluruh para pendidik serta mahasiswa kependidikan dalam melejitkan potensi
diri agar menjadi pendidik yang kapabel dan di ridhai Allah SWT. Begitu juga
seluruh pihak dilingkungan pendidikan Islam dalam merevitalitasikan semangat
pendidikan Islam guna terbentuknya kurikulum Islam yang berkualitas. Bagi
khalayak umum yang ingin memperkaya khazanah pendidikan keislamannya juga patut
memiliki buku Hadis Tarbawi ini ditengah-tengah keluarga muslimnya.
Komentar
Posting Komentar