Membangun Network dengan Komunikasi yang Efektif (Refleksi Modul 15)

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam Sejahtera untuk kita semua.

"Go build it. If you really believe in something, you should just build it. If you love it, it won't feel like work".

Kalimat tersebut merupakan penggalan ekspresi dari Kevin Rose, pendiri Digg. Memulai sesuatu tentunya diawali oleh keinginan yang kuat. Keinginan tersebut akan mudah terwujud dengan adanya jejaring (networking). Hubungan yang mesti dibangun dengan pihak lain tidak serta merta terjadi begitu saja, tetapi harus memiliki chemistry yang sama dalam memahami suatu visi dan misi terhadap sesuatu. 

Menjumpai beberapa stakeholder penting dalam menjalankan amanah sebagai SRB (Sahabat Rumah Belajar) Aceh 2020 di lingkungan pendidikan, tentunya memerlukan koordinasi dari berbagai pihak untuk kelancaran program tersebut. Membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan dan sesama anggota tim, memerlukan gaya komunikasi yang tepat dan mudah untuk dipahami. 

Komunikasi itu sendiri teradopsi dari bahasa Latin yaitu Communicatus yang memiliki makna berbagi atau menjadi milik bersama. Sementara itu, merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunikasi dipahami sebagai upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan. Dalam berkomunikasi tentunya memerlukan adanya keterlibatan dua arah dari penyampai pesan. Karena pada intinya, ada hal yang ingin di bagikan oleh komunikator kepada komunikan agar mengerucut kepada tercapainya kesamaan makna. Pesan yang ingin diutarakan dapat berbentuk verbal maupun non verbal.

Membangun relasi dengan berbagai pihak, tentunya memerlukan komunikasi yang efektif. Hal tersebut agar makna yang ingin disampaikan dapat terserap dengan baik. Terdapat 5 (lima) komponen utama dalam membangun two ways communication, yaitu komunikator, message, channel (saluran/media komunikasi), komunikan, dan feedback. Ketika dalam berkomunikasi hanya terdapat komunikator dan hanya pesan saja tanpa munculnya feedback dari komunikan, maka komunikasi tersebut disebut one way communication (komunikasi satu arah). 

Sejauh pengalaman selama membangun network dengan berbagai pihak, saya terus menghadirkan sistem komunikasi yang efektif dan efisien dengan terus memperhatikan substansi pesan yang ingin saya sampaikan. 

Untuk mewujudkan suatu program kegiatan tertentu, saya juga bekerja sama dengan tim. Baik itu melalui media telekomunikasi maupun face to face, kedua cara tersebut dipilih sesuai dengan kebutuhan komunikasi kami. Menjaga komunikasi melalui media telekomunikasi tentulah berbeda ketika bertatap muka. Namun demikian, pemilihan media komunikasi yang tepat akan mampu merespon dengan baik pesan yang ingin disampaikan. Seorang komunikator setidaknya mesti memiliki kompetensi sebagai berikut, yaitu mampu :

  1. Berkomunikasi secara verbal (lisan dan tulis).
  2. Memahami substansi yang ingin disampaikan.
  3. Memiliki kredibilitas yang baik di hadapan audience.
  4. Memilih media komunikasi yang tepat.
  5. Antisipatif terhadap noise yang mungkin muncul.
  6. Memberikan respon yang diberikan komunikan.
Ketika bekerja secara kolaboratif, mengomunikasikan tupoksi kerja dari setiap personal mesti dilakukan guna mencapai suatu tujuan. Dengan demikian, pesan yang ingin disampaikan pun akan tetap terjaga. Terkait sifatnya, pesan yang disampaikan secara langsung tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Pesan Informatif, penyajian data/ informasi yang diperkuat oleh fakta/data valid.
  2. Pesan Pesuasif, memuat fakta yang menyakinkan kesadaran komunikan.
  3. Pesan Koersif, pesan yang lugas, tegas serta disertai sanksi jika melanggar.
Terkait media atau channel komunikasi, dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kategori , yaitu :
  1. Media Komunikasi Personal, seperti telepon dan aplikasi chatting.
  2. Media Komunikasi Massa, seperti TV, Radio, You Tube, FB, IG.
Secara fisik, media komunikasi dapat berupa media cetak, visual, Audio, dan Audio Visual. Seorang komunikan juga ditargetkan oleh komunikator dapat menerima pesan yang baik disertai dengan feedback yang mempengaruhi adanya perubahan pengetahuan, sikap, atau perilaku melalui proses komunikasi tersebut. Sementara itu, gangguan dalam komunikasi dapat berupa, noise fisik, noise fisiologi, noise psikologi serta noise semantik. 

Kaidah dalam berkomunikasi secara efektif merujuk kepada 5 (lima) kaidah hukum komunikasi yang disingkat dengan REACH, yaitu Respect, Empathy, Audible, Clarity dan yang terakhir Humble.

Etika dalam berkomunikasi juga mesti diperhatikan. Karena ia menyangkut norma, nilai, atau ukuran tingkah laku dalam berkomunikasi. Etika dan Etiket memiliki pengertian yang berbeda. Etika merupakan watak kebiasaan, sementara Etiket merujuk kepada makna sopan santun. Untuk menjaga etika dalam komunikasi di era digital, maka gaya tulisan dan tanda baca, intonasi suara dan menghargai privasi pihak lain mesti diperhatikan dengan baik. Hal ini tentunya untuk tetap menjaga komunikasi yang sehat.

Kesolidan sebuah tim harus diperhatikan dengan baik, agar noise yang bisa kapan saja muncul dapat segera di atasi. Sebagai tim kolaborasi untuk beberapa agenda, saya mengkomunikasikan segala sesuatu dengan baik agar tidak adanya miskomunikasi. Demikian halnya ketika kami harus mengadakan kunjungan ke instansi pemerintah. Saling berbagi ide dalam menyampaikan suatu maksud dengan sesama tim mesti di perhitungkan. Mengingat latarbelakang dari setiap personal. Penataan tutur kata yang tepat serta performa yang menarik sebagai lawan bicara. 

Diseminasi terkait inovasi pembelajaran ke pihak birokrat Dinas Pendidikan dan pihak satuan pendidikan, saya jajaki dengan sebaik mungkin. Pertemuan ke beberapa pemangku kepentingan secara kolaboratif dengan sesama SRB (Sahabat Rumah Belajar) selalu melalui two ways communication yang baik. Hal ini ditandai dengan terselenggaranya program yang kami capai. 

Secara personal, saya juga mengadakan pertemuan dengan beberapa stakeholder pendidikan. Hal ini baik berlangsung via chatting maupun face to face. Kejelasan maksud yang ingin kita sampaikan agar mendapatkan kesamaan makna tentunya terus diperhatikan tanpa mengabaikan etika dalam komunikasi interpersonal. Seringnya kita melibatkan diri dalam berbagai event serta berjumpa dengan banyak orang yang beragam, akan dapat memperkaya pemahaman kita terhadap suatu pengetahuan komunikasi yang efektif. Disamping melatih diri kita untuk dapat memposisikan diri dengan patut ketika berkomunikasi dengan berbagai pihak serta dengan latar belakang yang berbeda. 

Network yang saya bangun dalam kegiatan diseminasi terkait Rumah Belajar bermula dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah tempat saya mengajar, yaitu SMKN 5 Lhokseumawe, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Lhokseumawe yang diwakilkan oleh Kasi Manajemen GTK dan TUSIS, Pengawas Pembina SMKN 5 Lhokseumawe, Kepala Dinas Kementerian Agama Kota Lhokseumawe yang diwakili oleh Kasi Pendidikan Islam, Kepala Sekolah SMKN 8 Lhokseumawe, Kepala Sekolah MTsN Lhokseumawe, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara yang diwakili oleh Kasi Kurikulum dan Penilaian Pendidikan Dasar, Kepala Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe, Kepala Sekolah TK Negeri Pembina Muara Batu, Kepala Sekolah SDN 8 Muara Batu, Kepala Sekolah SMAN 1 Banda Baro yang diwakili oleh Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, Ketua  MGMP Bahasa Inggris Kota Lhokseumawe, Ketua IGI sekaligus Ketua MGPM Fisika Kota Lhokseumawe, Duta Rumah Belajar Aceh 2018, Duta Rumah Belajar Aceh 2019, Pihak Pusdatin Kemendikbud, para Sahabat Rumah Belajar Aceh 2020, para Duta dan Sahabat Rumah Belajar dari provinsi lain serta pihak terkait lainnya. 

Kontrol diri dalam berkomunikasi harus selalu terjaga dalam tim, agar ritme kolaborasi dapat terjaga dengan baik. Efektifkan penggunaan bahasa yang sesuai dengan komunitas juga menjadi pertimbangan dalam membangun komuniksi yang efektif selain penjelasan di atas.

Melalui komunikasi yang efektif akan mempermudah kerja-kerja kita kedepan. Pemilihan media komunikasi serta memperhatikan etika dan etiket dalam berkomunikasi tentunya akan senantiasa mewujudkan suatu bentuk komunikasi yang saling mengerti dan memahami. 





















Komentar